faktor- faktor yang mempengaruhi belajar dikelas
TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG
faktor- faktor yang mempengaruhi belajar dikelas
faktor- faktor yang mempengaruhi belajar dikelas
DISUSUN OLEH:
ELVIRA DEVITA SRI
(1620180)
DOSEN
PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI MP.d
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP )
ADZKIA
2019
A.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Belajar
Pendekatan
belajar dan strategi atau kiat melaksanakan pendekatan serta methode belajar
termasuk faktor-faktor yang turut mentukan tingkat efisiensi dan keberhasilan belajar
siswa. Sering terjadi seorang siswa yang memiliki kemampuan ranah cipta
(Kognitif) yang lebih tinggi dari pada teman-temannya, ternyata hanya mampu
mencapai hasil yang sama dengan teman-temannya itu. Bahkan bukan hal yang
mustahil jika suatu saat siswa cerdas tersebut mengalami kemerosotan prestasi
sampai ke titik yang lebih rendah dari pada prestasi teman-temannya yang
berkapasitas rata-rata. Dalam hal ini kita akan mempelajari bersama faktor
apakah / faktor apa sajakah yang bisa mempengaruhi belajar siswa di dalam
kelas.
Secara global, faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi 3 macam, yakni :
1. Faktor Internal (Faktor dari
dalam siswa/endogen), adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri
individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu, yakni keadaan / kondisi
jasmani dan rohani siswa.
Faktor
yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, yakni :
a. Aspek fisiologis (Yang bersifat
jasmaniah)
Kondisi
umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebigaran
organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan
intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran, untuk mempertahankan tonus jasmani
agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan untuk beristirahat cukup dan olahraga
teratur, hal ini penting sebab kesalahan pola makan dan minum serta istirahat
cukup akan menimbulkan reaksi tonus yang negative dan merugikan semangat mental
siswa itu sendiri.
Kondisi
organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indra pendengar dan indra penglihat
juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan
pengetahuan, khususnya yang disajikan dikelas. Daya pendengar dan penglihatan
siswa yang rendah akan menyulitkan sensory register dalam menyerap item-item
informasi yang bersifat echoic dan iconic (gema dan citra0. Selain itu
terhambatnya proses informasi yang dilakukan oleh system memori siswa tersebut.
Untuk
mengatasi kemungkinan masalah mata dan telinga, sebagai guru
professional, kita bisa menempatkannya dideretan bangku terdepan secara
bijaksana tanpa harus member tahu alasannya. Langkah bijaksana ini perlu
diambil untuk mempertahankan self-esteem dan self condence siswa-siswa khusus
tersebut. Kemerosotan self-esteem dan self-confidence seorang siswa akan
menimbulka frustasi yang pada gilirannya cepat atau lambat siswa tersebut akan
menjadi under achiever atau mungkin gagal, meskupun kapasitas kognitif mereka
normal atau lebih tinggi dari pada teman-temannya.
b.
Aspek Psikologis ( yang bersifat
rohaniah)
Banyak
factor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan
kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun diantara faktor-faktor rohaniah
siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
1). Tingkat kecerdasan / intelegensi siswa; 2). Sikap siswa; 3). Bakat siswa;
4). Minat siswa; 5). Motivasi siswa.
-
Intelegensi siswa
Intelegensi siswa pada umumnya dapat
diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara tepat. (Reber, 1988).
Tingkat kecerdasan atau intelegensi
(IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menetukan tingkat keberhasilan
belajar siswa. SEmakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin
besar peluangnya untuk sukses, begitu pula sebaliknya.
Selanjutnya,
diantara siswa yang mayoritas berintelegensi normal itu, mungkin dapat satu
atau dua orang yang tergolong gifted child atau talented child, yaitu anak yang
sangat cerdasdan anak yang sangat berbakat, disampig itu mungkin ada juga siswa
yang kecerdasannya dibawah rata-rata.
Setiap
calon guru dan guru professional sepantasnya menyadari bahwa keluarbiasaan
intelegensi siwa, baik yang positif seperti superior maupun yang
negative seperti borderline, lazimnya menimbulkan kesulitan belajar
siswa yang bersangkutan. Disatu sisi siswa yang cerdas sekali merasa tidak
mendapatkan perhatian yang memadai dari sekolah karena pelajaran yang disajikan
terlalu mudah baginya. Disisi lain, siswa yang bodoh (kurang mampu) akan merasa
sangat payah mengikuti sajian pelajaran karena sangat sulit baginya. Karenanya
keadaan kedua siswa itu sangat tertekan dan akhirnya merasa bosan dan frustasi
seperti yang dialami rekannya yang luar biasa positif tadi.
Untuk
menolong siswa yang berbakat sebaiknya menaikkan kelasnya setingkat lebih
tinggi dari pada kelasnya, dan apabila dikelas barunya dia masih merasa terlalu
mudah dapat dinaikan ke kelas yang yang tingkatnya lebih tinggi, sampai ia
menemui tingkat kesullitan mat apelajarannya sesuai tingkat intelegensinya.
Apabila cara tersebut sulit ditempuh, alternative lain dapat diambil, misalnya
dengan cara menyerahkan siswa tersebut kepada kepada lembaga pendidikan khusus
untuk pola siswa berbakat. Sementara itu untuk menolong siswa yang kecerdasanya
dibawah normal, maka tidak bisa dilakukan turun kelas, karena dengan itu
menimbulkan masalah baru yang bersifat psiko-fisik yang tidak hanya mengganggu
dirinya saja, akan tetapi juga mengganggu adik-adik kelasnya, adapun tindakan
yang lebih bijaksana yaitu dengan cara memindahkannya kesekolah / lembaga
pendidikan khusus untuk anak-anak penyandang “kelemahan IQ”
-
Sikap siswa
Sikap
adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecendrungan untuk mereaksi
atau merespon (response tendency) dengan cara yang relative terhadap objek
orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negative. Sikap
attitude siswa yang positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran yang
disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut.
Sebaliknya, jika sifat negative siswa terhadap guru dan mata pelajaran yang
disajikan, terlebih jika diiringi rasa kebencian dapat menimbulkan kesulitan
belajar siswa tersebut.
Untuk
mengantisipasi kemungkunan munculnya sikap negative siswa seperti diatas, guru
dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya
sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam hal
bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan
untuk senantiasa menghargai dan mencintai profesinya. Guru yang demikian bukan
saja dapat menguasai bahan mata pelajarannya akan tetapi dapat pula meyakinkan
pada siswanya seberapa penting pelajaran tersebut bagi kehidipan mereka dengan
begitu siswa akan merasa butuh akan penting dan manfaat dari pelajaran
tersebut, dengan kebutuhan itu itu diharapkan muncul sikap positif terhadap
bidang study tersebut sekaligus terhadap guru yang mengajarkannya.
-
Bakat Siswa
Secara
umum bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan dating (Chaplin, 1972; Reber,1988).
Dengan demikian sebetulnya setiap orang pasti memilki bakat dalam arti
berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ketingkat tertentu sesuai dengan
kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat itu sama / mirip dengan
intelegensi. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai
kemampuan individu untuk melakuka tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada
upaya pendidikan dan latihan.
Sehubungan
dengan hal itu bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar
bidang-bidang study tertentu. Oleh karenanya adalah hal yang tidak bijaksana
apabila apabila orang tua memaksakan kehendak untuk menyekolahkan anaknya pada
jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki
anaknya. Pemaksaan kehendak terhadap seorang siswa, dan juga ketidaksadaran
siswa terhadap bakatnya sendiri sehingga ia memilih jurusan keahlian tertentu
yang sebenarnya bukan bakatnya, akan berpengaruh buruk terhadap kinerja
akademik atau prestasi belajarnya.
-
Minat siswa
Secara
sederhana minat (Interest) berarti kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. (Reber, 1988), Minat termasuk istilah
populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada factor-faktor
internal lainnya, seperti: Pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi dan
kebutuhan.
Namun
terlepas dari masalah populer atau tidak, minat seperti yang dipahami dan
dipakai oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil
belajar siswa dalam bidang-bidang study tertentu.
-
Motivasi siswa
Pengertian
dasar motivasi adalah keadaan internal organism baik manusia atau pun hewan
yang mendoronya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti
pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman, 1986;
Reber, 1988). Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi
2 macam, yaitu:
1) motivasi intrinsic,
Motivasi intrinsic adalah hal dan
keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendoronya
melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsic siswa adalah
perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya
untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.
2)
Motivasi ekstrinsik.
Adapun motivasi ekstrinsik adalah
hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendoronya untuk
melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib
sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan sebagainya merupakan contoh kongkrit
motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau
ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun eksternal akan
menyebabkan kurang bersemangat siswa dalam melakukan proses pembelajaran
materi-materi pelajaran baik disekoah maupun dirumah.
2. Faktor eksternal ( Faktor
dari luar siswa), Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen,
factor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.
Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal
yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor
lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial.
a.
Lingkungan Non Sosial
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan non social ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah
tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan
waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut
menentukan tingkat keberhasilan siswa. Rumah yang sempit dan berantakan serta
perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki sarana umum untuk kegiatan
remaja ( seperti lapangan voly) misalnya, akan mendorong siswa untuk
berkeliaran ketempat-tempat yang sebenarnya tak pantas dikunjungi. Kondisi
rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan
belajar siswa.
Khusus
mengenai waktu yang disenangi untuk belajar, seperti pagi atau sore hari,
seorang ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pada pagi
lebih efektif dari pada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun menurut
penelitian beberapa ahli learning style, hasil belajar itu tidak tergantung
pada waktu secara mutlak, tapi bergantung pada pilihan waktu yang cocok dengan
kesiap siagaan siswa (Dunn et al, 1986).
Menurut
hasil penelitian disebuah universitas di Australia selatan, tidak ada perbedaan
yang berarti antara hasil belajar membaca pada pagi hari dan hasil membaca pada
sore hari bahkan mereka yang lebih senang belajar pada pagi hari dan dites pada
sore hari, hasilnya tetap baik. Sebaliknya, adapula diantara mereka yang lebih
suka belajar pada sore hari dan dites pada saat yang sama, Namun hasilnya tidak
memuaska. (Syah, 1990). Dengan demikian waktu yang digunakan siswa untuk
belajar yang selama ini sering dipercaya berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa, tak perlu di hiraukan. Sebab, bukan waktu yang penting dalam belajar
melinkan kesiapan system memori siswa dalam menyerap, mengelolah, dan menyimpan
item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari siswa tersebut. Selain
Faktor-faktor yang telah di sebutkan di atas beberapa hal yang
termasuk lingkungan nonsosial adalah;
a.
Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak
dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap,
suasana yang sejuk dan tenang.
b.
Factor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam.
Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar,
lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum
sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c.
Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya
disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga dengan metode mengajar
guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru
dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka
guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat
diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.
1) Faktor pendekatan Belajar
Pendekatan
belajar seperti yang telah diuraikan secara panjang lebar pada sub bab
sebelumnya, dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan
siswa dalam menunjang keefektifan dan efesiensi preses pembelajaran materi
tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang
direkayasa sedemikian rupa untuk memcahkan masalah atau mencapai tujuan
tertentu. (Lowson, 1991)
Disamping
factor-faktor internal dan eksternal siswa sebagaimana diaparkan dimuka, factor
belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa
tersebut. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar
deep misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang
bermutu dari pada siswa ang menggunakan pendekatan belajar surface atau
reproductive.
b. Lingkungan social
Meliputi
lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga. Lingkungan
sekolah seperti para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat
mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Selanjutnya yang termasuk
lingkungan social siswa adalah masyarakat, tetangga dan teman-teman sepermainan
disekitar perkampungan siswa tersebut. Kondisi masyarakat disekitar kumuh
(Slum area) yang serba kekurangan dan anak-anak pengangguran misalnya akan
sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.
Lingkungan
social yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan
keluarga dan demografi keluarga (Letak rumah), semua memberikan dampak baik
ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil belajar yang dicapai siswa.
Misalnya kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan
dampak lebih buruk lagi. Dalam hal ini, bukan saja anak tidak mau belajar
melainkan ia cendrung berprilaku menyimpang, terutama perilaku menyimpang yang
berat seperti anti social (Patterson x Loeber, 1984).
Menurut
Wasty Soemanto (2003:113) dalam belajar, banyak sekali faktor yang mempengaruhi
belajar namun dari sekian banyaknya factor yang mempengaruhi belajar, hanya
dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:
1.
Faktor-faktor stimuli belajar :
Stimuli belajar adalah segala hal di luar individu yang merangsang individu itu
untuk mengadakan reaksi atau pembuatan belajar, misalnya panjangnya bahan
pelajaran, kesulitan bahan pelajaran, berartinya bahan pelajaran, berat ringannya
tugas, suasana lingkungan eksternal.
2.
Faktor-faktor metode belajar :
Metode mengajar yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar yang
dipakai oleh si pelajar maka metode yang dipakai oleh guru menimbulkan
perbedaan yang berarti bagi proses belajar, misalnya tentang kegiatan berlatih
atau praktek, menghafal atau menginggat, pengenalan tentang hasil-hasil
belajar, bimbingan dalam belajar.
3.
Faktor-faktor individual :
Faktor-faktor individual juga sangat besar penggaruhnya terhadap belajar
seseorang, misalnya tentang kematangan individu, usia, perbedaan jenis kelamin,
pengalaman sebelumnya, motivasi, kondisi kesehatan.
c.
Faktor pendekatan belajar (Approach
to learning).
Yaitu jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan methode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran.[1]
B. Mengatur kondisi kelas dan iklim belajar siswa
Agar kelas dalam
keadaan kondusif, dibutuhkan pengelolaan untuk penataan yang akurat oleh guru
atau wali kelas sebagai wahana untuk memberikan kesan yang ekslusif dan sedap
dipandang mata, memberikan keindahan dan kenyamanan. Untuk mencapai tatanan
diatas diperlukan suatu penataan kelas yang terstruktur seperti :
1)
Penataan
fisik kelas
Manajemen
atau penataan fisik kelas dapat diawali dengan penataan ruangan yaitu :
a.
Ventilasi
udara
b.
Penataan
cahaya
c.
Penataan
warna
d.
Pengelolaan
alat- alat pelajaran
2)
Penataan
ruangan kelas
Agar
tercipta penataan ruang kelas yang nyaman dibutuhkan pengelolaan meja kursi
sesuai dengan prinsip aksebilitas, mobilitas, interaksi, dan variasi kerja
siswa dan untuk lebih jelasnya lagi diterangkan dibawah ini :
a.
Aksebilitas
yaitu kemudahan siswa untuk menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia
b.
Mobilitas
yaitu memudahkan baik siswa maupun guru untuk bergerak dari suatu bagian ke
bagian yang lain dalam kelas
c.
Interaksi
yaitu memudahkan interaksi dalam proses
pembelajaran antara guru dan siswa maupun antar siswa
d.
Variasi
kerja siswa yaitu memungkinkan untuk siswa bekerja secara perorangan, atau
bekerja sama secara berpasangan, atau secara kelompok
Menurut
darwiyah syah (2006:304) dalam penataan kelas terdapat beberapa formasi yang
bisa digunakan untuk tempat duduk peserta didik, yaitu :
a.
Posisi
konvensional
b.
Posisi
melingkar
c.
Posisi
setengah lingkaran
d.
Posisi
berkelompok
e.
Posisi
individual
C. Kondisi yang mempengaruhi iklim belajar
Penekanan dalam
penciptaan iklim belajar yang kondusif dan untuk menciptakan suasana
pembelajaran yang ko ndusif menurut (Hendy hermawan, 2006 :52) harus mencakup
beberapa aspek yaitu :
a.
Menyenangkan
dan mengasyikkan
b.
Mencerdaskan
dan menguatkan
c.
Pengelolaan
siswa
d.
Pengelolaan
isi/ materi pembelajaran
e.
Pengelolaan
sumber belajar
f.
Layanan
dan kegiatan belajar
g.
Peran
guru sebagai mentor
h.
Menggunakan
berbagai media
DAFTAR PUSTAKA
-
Syah, Muhibin. Psikologi Belajar,
PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta:2010
-
Danim, Sudarwan. Inovasi pendidikan
dalam upaya peningkatan profesionalisme
tenaga kependidikan,
CV. Pustaka Setia, Bandung:2002
-
Rukmana, dkk. Pengelolaan kelas,
UPI Press, Bandung:2006
-
Naim, Ngainun. Menjadi Guru
Inspiratif, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2009
Sangat bermanfaat
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapus