masalah dalam kelas dan upaya pemecahannya


TUGAS
 MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG 
masalah dalam kelas dan upaya pemecahannya









 


 DISUSUN OLEH:
ELVIRA DEVITA SRI
(1620180)

DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI MP.d
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP ) ADZKIA
2019
A.    Latar belakang masalah

Menurut kamus besar bahasa Indonesia KBBI, masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Sedangkan masalah menurut Prajudi Atmosudirjo adalah sesuatu yang menyimpang dari apa yang diharapkan, direncanakan, ditentutan untuk tercapainya tujuan. Hal ini memicu guru tidak mampu menyampaikan ataupun menyesuaikan dengan kondisi suasana kelas. Oleh sebab itu, timbul permasalahan- permasalahan yang terjadi didalam kelas seperti kurang siapnya guru dalam menyiapkan materi pembelajaran yang akan disampaikan, sehingga proses belajar  mengajar terlihat kaku dan menyebabkan siswa atau peserta didik kurang bergairah atau susah untuk belajar. Kondisi seperti ini tidak menguntungkan, menyebabkan tidak tercapainya tujuan dalam proses belajar mengajar karena tidak dapat mengkondisikan kelas.

Untuk mengetahui kelas, Hadari Nawawi (1989) memandsan kelas dari dua sudut yaitu, :
1.      Kelas dalam arti sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar
2.      Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreaktif untuk mencapai suatu tujuan.

        Masalah pengelolaan kelas menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12) dalam Ade Rukmana (2006 :58) dikelompokkan menjadi dua ketegori yaitu masalah individual dan masalah kelompok (meskipun perbedaan keduanya merupakan tekanan saja). Tindakan pengelolaan kelas yang dilakukan guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi  penanggulangan yang tepat pula.
           
            Berdasarkan paparan diatas, Thomas Gordon (1990) dengan gambling mengemukakan bahwa secara umum penyebab timbulnya  masalah dalam pengelolaan kelas adalah sebagai berikut :
1)      Hilangnya hubungan pendidik dan anak didik, maksudnya kurangnya komunikasi antara pendidik dengan peserta didik
2)      Kurang profesionalnya pendidik dalam pembelajaran baik dalam penggunaan metode, strategi maupun media
3)      System pembelajaran yang menoton, terlalu srius dan cara menerapkan disiplin yang tidak tepat
4)      Lingkungan sekolag yang tidak kondusif
5)      Tidak ada kreativitas dari guru, siswa maupun lingkungan sekolah
6)      No limit atau tidak ada batasan waktu belajar
7)      Tidak adanya kerja sama antara pendidik, peserta didik, dan orang tua (Thomas Gordon : 1990)

Setidaknya ada dua masalah yang sering kali terjadi dikelas, yaitu masalah pengajaran dan masalah pengelolaan kelas. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan.

B.     Kebijakan penanganan masalah dalam kelas

1.      Menurut UU. No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
Pasal 4 :
Setiap anak berhak untuk  dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan krisminasi.

Pasal 9 ayat (1) :
Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

Pasal 19
Setiap anak berkewajiban untuk :
a.       Menghormati orang tua, wali, dan guru
b.      Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman.
c.       Mencintai tanah air bangsa dan Negara
d.      Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya
e.       Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia (UU No 23 Th 2002 KPAI)
2.      Peraturan pemerintah (PP) No.74 tahun 2008 tentang guru. Guru adalah pendidik operasional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah.

C.     Macam – macam masalah dalam manajemen kelas

       Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :

1)      Masalah Individual :

Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.

·     Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.

·         Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.

·         Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).

· Helplessness (peragaan ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.

Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa. Diantaranya yaitu :
a.    Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
b.      Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d.    Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.

2)      Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:

a.       Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.

b.      Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.

c.       Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.

d.      Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.

e.       Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.

f.       Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.

g.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator.

Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.   Masalah pengarahan : Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a.       Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b.      Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa.
c.       Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d.      Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e.       Merumuskan tujuan instruksional jelas.

Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.

2. Masalah evaluasi dan penilaian : Guru dalam tugasnya untuk merencanakan,  melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a.       Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b.      Prosedur evaluasi tidak jelas
c.       Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d.      Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e.       Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f.       Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.

3.   Masalah isi dan urut-urutan pelajaran : Dalam membuat perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai berikut:
a.       Guru kurang menguasai materi
b.      Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c.       Materi yang diberikan sangat luas
d.      Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e.       Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f.       Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikannya.
g.      Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang diberikan.

4.  Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran : Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a.       Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b.      Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c.       Kurang terampil dalam menggunakan metode
d.      Sangat terikat pada satu metode saja
e.       Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5. Masalah hambatan-hambatan : Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:
a.       Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b.      Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c.       Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d.      Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e.       Keadaan sarana yang kurang
f.       Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.

Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.

D.    Solusi dalam mengatasi permasalahan manajemen kelas

Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:

a.  Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.

b.  Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.

c.  Group Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness.

d. Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1.      Perintah dan larangan
2.      Penekanan dan penguasaan
3.      Penghukuman dan pengancaman
4.      Pendekatan perintah dan larangan

e.  Pendekatan Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
a. Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
b.Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
c. Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
d.            Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
e. Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
f. Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota

f.      Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelomp            ok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memik
Kita sebagai calon guru SD yang nantinya sebagai guru kelas diharapkan dengan mempelajari dan mengetahui pengaturan kondisi dan penciptaan iklim belajar yang menunjang, dapat menciptakan kondisi kelas baik secara fisik, sosio-emosional, organisasional, dan kondisi  







DAFTAR PUSTAKA

Almasawi,dkk. 2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.

Ekosiswoyo, Rasdi. 2000. Manajemen kelas. Semarang: CV. Ikip.Semarang press

Djabidi, faizal. 2016. Manajemen pengelolaan kelas. Malang : perpustakaan Nasional : katalog dalam terbitan (KDT)










Komentar

Posting Komentar