Komponen manajemen kelas
tugas managemen kelas di SD
tentang
"komponen-komponen manajemen kelas"
oleh
Elfira Devita Sri
1620180
kelas 7.5 PGSD
DOSEN PEBIMBING
yessi Rifmasari M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG 2019
PADANG 2019
PEMBAHASAN
A.pengertian komponen keterampilan managemen kelas
Menurut bahasa ”keterampilan”
artinya kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sedangkan menurut
istilah ”keterampilan” adalah sekumpulan pengetahuan dan kemampuan yang harus
dikuasai. Kemudian ”mengelola” menurut bahasa artinya mengendalikan,
menyelenggara, mengurus, menjalankan.3 Menurut istilah ”mengelola”
adalah penciptaan suatu kondisiyang memungkinkan belajar siswa menjadi optimal.
Kelas artinya ruang belajar.
Istilah pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yakni
kata pengelolaan dan kelas. Dalam KBBI, kata pengelolaan berasal dari kata
kelola yang memiliki arti: 1
a. Proses atau cara perbuatan mengelola.
b. Proses melakukan kegiatan tertentu dengan
menggerakkan tenaga orang lain.
c. Proses yang
membantu merumuskan kebijakan dan tujuan organisasi.
d. Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal
yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.
Pengelolaan kelas merupakan
keterampilan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal
serta guru mampu mengembalikannya bila terjadi masalah dan gangguan dalam
proses belajar mengajar. Dalam artian, kegiatan-kegiatan untuk memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mempertahankan kondisi belajar apabila terjadi
suatu gangguan dan masalah ketika proses belajar mengajar berlangsung. Adapun
yang termasuk ke dalam hal ini, seperti halnya penghentian tingkah laku siswa
yang menyelewengkan perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tidak
menepati waktu yang telah disepakati.
Menurut Syaiful
Bahri Djamara dalam sebuah bukunya yang berjudul “Guru dan Anak Didik dalam
Interaksi Edukatif” bahwa, manajemen kelas adalah suatu upaya memperdayagunakan
potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung
proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut
Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar
dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang
diharapkan.
Dari beberapa
pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar
dengan maksud agar dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga dapat
terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
B.
Macam-Macam Komponen
Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen
keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian,
yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan
dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Semua kegiatan
yang disebutkan diatas akan diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini :
1.
Keterampilan yang berhubungan dengan
penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan
ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan
mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan
keterampilan sebagai berikut:
a)
Sikap tanggap
Seorang guru
memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa
dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak
menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan
yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir
berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada
perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang
kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik walaupun guru sedang
menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Memandang
secara seksama
Memandang
secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam
pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa
persahabatan.
b. Gerak
mendekati
Gerak mendekati
hendaklah dilakukan secara wajar bukan menakut-nakuti, mengancam atau
memberikan kritikan-kritikan kelompok kecil dan individu ditandai dengan
kesiagaan, minat dan perhatian guru terhadap aktivitas siswa serta tugas guru.
c. Memberi
pernyataan
Pernyataan guru
terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh siswa sangat diperlukan, baik berupa
tanggapan, komentar, dan lain-lain. Akan tetapi harus dihindari hal-hal yang
menunjukkan dominasi guru, seperti komentar atau pernyataan yang mengandung
ancaman.
d. Memberi reaksi
terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak
selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan
dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik.
Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula,
sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
b)
Membagi perhatian
Kelas diisi
oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang
berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.
perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu
yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi
perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama
agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:
a. Visual
Guru dapat
mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa
sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada
kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak
didik atau anak didik secara individual.
b. Verbal
Guru dapat
memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak
didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak
didik yang lain.
c)
Pemusataan perhatian kelompok
Munculnya
kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam
kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan
perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas
yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan
mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan
tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang
terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat
guru lakukan, yaitu:
a. Menyiapkan siswa
Memusatkan
perhatian siswa kepada suatu hal sebelum guru menyampaikan materi pokok.
Maksudnya adalah untuk menghindari penyimpangan perhatian siswa
b. Pertanggungan
jawab
Guru meminta
pertanggung jawaban siswa atas kegiatan dan keterlibatan siswa dalam suatu
kegiatan, baik kegiatan sendiri maupun kegiatan kelompok. misalnya dengan
meminta kepada siswa memperagakan, melaporkan hasil dan memberi tanggapan.
c. Pengarahan dan
petunjuk yang jelas
Guru harus
sering memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dansingkat dalam memberikan
pelajaran kepada siswa sehingga seluruh anggota kelas, baik kelompok maupun
individu dengan menggunakan bahasa dan tujuan yang jelas
d. Penghentian
Salah satu cara
untuk menghentikan gangguan siswa adalah beruapa teguran yang dilakukan oleh
guru, teguran ini berupa teguran verbal yang di benarkan dalam
pendidikan.teguran verbal yang efektif adalah yang memenuhi syarat sebagai
berikut: a) Tegas dan jelas tertuju pada siswa yang mengganggu anggota kelas
serta yang bertingkah laku menyimpang. b) Menghindari peringatan yang kasar dan
menyakitkan atau yang mengandung penghinaan. c) Menghindari ocehan dan ejekan
e. Penguatan
Memberi
penguatan bisa dilakukan untuk menanggulangi siswa yang mengganggu atau yang
tidak melakukan tugas dengan masalahnya. Pemberian penguatan yang sederhana
adalah: a) Dengan menggunakan penguatan positif bila siswa telah menghentikan
tingkah laku dan kembali kepada tugas yang diminta. b) Dengan menggunakan
penguatan positif kepada siswa yang tidak menmggunakan anggota kelas dan bisa
dijadikan sebagai model tingkah laku yang baik kepada siswa yang suka
mengganggu.
f. Kelancaran
atau kemajuan
Kelancaran atau
kemajuan siswa adalah indikator bahwa siswa dapat memusatkan perhatiannya pada
pelajaran yang diberikan di kelas. Ini perlu didukung guru dan jangan diganggu
dengan hal-hal lain yang membuyarkan konsentrasi belajar siswa.
2.
Keterampilan yang berhubungan dengan
pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan
ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan
dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan
kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan
gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan
tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor
sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat
menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu
guru dapat menggunakan
seperangkat
strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus
menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas.
Strategi itu adalah:
1.
Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi
tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan
kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang
penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang
mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku
tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
2.
Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil
ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan
pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul
secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan
lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran
maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru
dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
a) Memperlancar
tugas-tugas: Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
b) Memelihara
kegiatan-kegiatan kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan
menangani konflik yang timbul.
3.
Menemukan dan memecahkan tingkah laku
yang menimbulkan masalah.
Permasalahan
memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu
permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi
oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat
dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang
muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan
tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus
datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya
mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.
C.
. Permasalahan Dalam komponen Pengelolaan Kelas
Menurut Abdul
Majid dalam pengelolaan kelas terdapat dua masalah yakni masalah individual dan
masalah kelompok.Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila
guru dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi.
Adapun masalah-masalah pengelolaan kelas akan dijelaskan di bawah ini sebagai
berikut:
1.
Masalah
Individu
Masalah individu
muncul karena dalam individu ada kebutuhan yang ingin diterima oleh kelompok
dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan individu tidak dapat dipenuhi
melalui cara yang baik, maka individu yang bersangkutan akan mencari cara lain
untuk mencapai kebutuhannya dengan berbuat tidak baik. Perbuatan yang tidak
baik itu menurut Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel digolongkan ke dalam empat
point, yakni:
a) Attetion
Getting Behaviors
Tingkah laku
yang ingin mendapat perhatian orang lain. Misalnya membadut di kelas, atau
berbuat lamban sehingga memerlukan pertolongan ekstra.
b) Power
Seeking
Maksudnya adalah
tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan. Misalnya selalu mendebat,
kehilangan kendali emosional (marah, menangis) atau selalu lupa pada peraturan
di kelas.
c) Revenge
Seeking Behaviors
Maksunya adalah
tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain. Misalnya menyakiti orang lain
dengan perkataan-perkataan yang tidak baik, memukul, menggigit dan lain-lain.
d) Passive
Behaviors
Maksudnya
peragaan ketidak mampuan, yakni sama sekali menolak untuk mencoba melakukan
suatu apapun karena khawatir gagal.
Dari ke empat
tindakan individu di atas menurut Maman Rahman akan mengakibatkan terbentuknya
empat pola tingkah laku yang sering nampak pada usia sekolah yakni:
a. Pola
aktif kontruktif, yaitu tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super
stars di kelasnya dan berusaha membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh
hati.
b. Pola
aktif dekstruktif, yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk suka
marah, kasar dan pemberontak.
c. Pola
konstuktif, yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang
lamban denagn maksud agar selalu dibantu dan diharapkan perhatian.
d. Pola
pasif destruktif, yaitu pola tingkah laku yang menunjuk sifat malas dan keras
kepala.
2.
Masalah
Kelompok
Adapun masalah
kelompok dalam pengelolaan kelas menurut Johnson dan Bany,yakni:
a. Kurangnya
kesatuan, ditandai dengan konflik-konflik antara individu dengansub kelompok.
Misalnya konflik antara jenis kelamin.
b. Ketidak
taatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja, misalnya keributan,
kegaduhan, berbicara keras, bertingkah laku yang mengganggu saat mereka
diharapkan bekerja dalam suasana tenang di tempat duduk masing-masing.
c. Reaksi
negatif terhadap pribadi anggota kelas ditandai dengan kesan bermusuhan
terhadap anak-anak yang tidak diterima oleh kelompok, menghalagi usaha
kelompok.
d. Pengakuan
kelas terhadap kelakuan guru.
e. Kecendrungan
adanya gangguan, kemacetan pekerjaan dan kelakuan yang dibuat-buat.
f. Ketidak
mampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, seperti memberi
reaksi buruk pada saat ada peraturan baru, situasi darurat, perubahan anggota
kelompok, perubahan jadwal, dan pergantian guru.
g. Semangat
juang yang rendah dan adanya sikap permusuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri Djamara,
Syaiful dan Zain, Aswan. Strategi Belajar
Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta 2006). Cet. Ke-6
Rukmana, Ade
dan Suryana, Asep. Pengelolaan Kelas.
(Bandung: Upi Press 2006). Cet. Ke-1
Syaiful Bahri Djamara dan Aswan
Zain, Strategi Belajar Mengajar, (. (Jakarta:
Rineka Cipta 2006).
Hal . 175
Bahri Dzamarah, Syaiful. Guru
dan Anak Didik
dalam Interaksi Edukatif Suatu PendekatanTeoritis Psikologis, Jakarata: Rineka
Cipta, 2005.
Bermanfaat sekali
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusArtikelnya sangat membantu min
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus