PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS
TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG
Pendekatan dalam manajemen kelas
DISUSUN OLEH:
ELVIRA DEVITA SRI
(1620180)
DOSEN
PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI MP.d
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP )
ADZKIA
2019
A. PENGERTIAN
PENDEKATAN DALAM MANAGEMEN KELAS
Pendekatan : Adalah usaha / upaya dalam rangka aktivitas yang dilakukan
untuk mengadakan hubungan dengan sesuatu yang menjadi objeknya (siswa) melalui
interaksi timbal balik. Managemen kelas :
pengelolaan, penyelenggaraan, keterlaksanaan penggunaan sumber daya
secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan [1][1]
Pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam
managemen kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tersebut terhadap
tingkah laku siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang siswa melakukan
penyimpangan. Keharmonisan hubungan guru dan siswa, tingginya kerjasama di
antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal
bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
Pendekatan yang dipilih guru senantiasa diselaraskan
dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. pendekatan pada dasarnya dielompokkan
menjadi dua yaitu pendekatan managerial dan pendekatan psikologikal. Tetapi
dalam makalah ini yang dibahas hanya pendekatan dalam kelompok managerial.
B. SIKAP
GURU DALAM MENAJEMEN KELAS
Dalam pengelolaan kelas hendaknya
guru bersikap seperti yang dikemukakan oleh Djamarah (2006 : 185) yaitu
1.
Hangat dan antusias, guru yang
hangat dan akrab pada siswa akan menunjukkan antusias pada tugasnya,
2.
Menggunakan kata – kata, tindakan,
cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan siswa
untuk belajar,
3.
Bervariasi dalam penggunaan alat
atau media pola interaksi antara guru dan siswa,
4.
Guru luwes untuk mengubah strategi
mengajarnya,
5.
Guru harus menekankan pada hal – hal
yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif
dan
6.
Guru harus disiplin dalam segala
hal.
Tipe kepemimpinan yang otoriter
harus diubah menjadi lebih demokratis karena tipe kepemimpinan otoriter
menumbuhkan sikap agresif tetapi siswa hanya aktif kalau ada guru dan kalau
guru yang demokratis maka semua aktivitasnya akan menurun. Tipe kepemimpinan
guru yang demokratis lebih mungkin terbinanya sikap persahabatan guru dan siswa
dengan dasar saling mempercayai. Untuk menciptakan dan memelihara kondisi
belajar yang optimal guru harus menempatkan diri sebagai model, pengembang,
perencana, pembimbing dan fasilitator.
C. PERAN GURU DALAM PENDEKATAN
MANAJEMEN KELAS
Peran guru dalam manajemen kelas
agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1. Peran
guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan
mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini
pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas,
murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita
ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu
meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara
tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra
perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang
belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya
pasif menerima.
- Kelas terbuka
Kelas
dapat terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan
model ini dapat dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai
kelas 6 sama atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam
pelajaran Bahasa Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut,
sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai.
Dengan demikian ada siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III,
tetapi pada waktu Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke
kelas V. Konsep ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
2. Kelas dua tingkat
Konsep
ini dilaksanakan dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang
berbeda kelas tetapi berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan
IV, dan seterusnya.
3. Kelas awal
Pembelajaran
dengan pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap
pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan
mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila
dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata
pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran yang utuh
sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini terjadi karena
anak belajar secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan akan lebih
mudah dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial yang tak
bermakna.
2. Peran
guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan
pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai
pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk
:
a.Seating
chart
Penempatan
murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu
dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru,
sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat
duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau
sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk
secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan
gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu
menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap
menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b.Melingkar
Model
duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok,
sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c.Tapal
kuda
Model
ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua
diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian
dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
3. Peran
guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat
klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya;
alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat
pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik,
papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable)
yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin,
peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan
tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga,
buku.
Alat-alat
pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di
dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
4. Peran
guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah”
merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa
keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa
nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan
mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan
keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat
mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan
beberapa cara, yaitu: (a) menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat
pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan
kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan.
Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam
suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu
pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan
bermakna, (b) penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung
tercapainya ruangan yang rapid an indah.
5. Cahaya,
Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau
terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap
perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah
satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas
harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa
sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang
terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara
guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya
pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu disamping membuka
jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana
untuk mengurangi
sekolah atau kelas berpengaruh
terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga
kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya
D. MACAM- MACAM PENDEKATAN MANAJEMEN
KELAS
Manajemen kelas tidak berdiri
sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah
faktor utama yang dilakukan guru untuk meningkatkan kegairahan siswa baik
secara berkelompok maupun secara individual. Keharmonisan hubungan guru dan
siswa, tingginya kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi.
Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan
dalam rangka pengelolaan kelas.[2][2] Berikut ini
ada beberapa pendekatan dalam mengelola kelas:
1. Pendekatan Otoriter atau Kekuasaan
Pendekatan otoriter adalah
pendekatan yang menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan memelihara
ketertiban di kelas dengan menggunakan strategi pengendalian. Guru otoriter
bertindak untuk kepentingan siswa dengan menerapkan disiplin yang tegas. Bila
timbul masalah-masalah yang merusak
ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
a. Perintah dan Larangan
Baik perintah maupun larangan dapat
diterapkan atas dasar generalisasi masalah-masalah pengelolaan kelas tertentu.
Seorang guru yang melaksanakan perintah dan larangan bersikap reaktif, namun
jangkauannya hanya terbatas pada masalah-masalah yang timbul sewaktu-waktu
saja, sehingga kemungkinan timbulnya masalah pada masa mendatang kurang dapat
dicegah atau ditanggulangi secara tepat.
b.
Penekanan dan Penguasaan
Pendekatan penekanan dan penguasaan
ini banyak mementingkan pada diri guru, banyak memerintah, mengomel dan
memarahi. Bila dalam menghadapi masalah pengelolaan kelas menggunakan
pendekatan penguasaan dan penekanan, maka memungkinkan siswa untuk diam, tertib
karena takut dan tertekan hatinya. Meskipun demikian, namun pendekatan ini
kurang tepat karena kurang toleransi, dan kurang bijaksana.
c.
Penghukuman dan Pengancaman
Pendekatan penghukuman muncul dalam
berbagai bentuk tingkah laku antara lain penghukuman dengan kekerasan, dengan
larangan bahkan pengusiran, menghardik atau menghentak dengan kata-kata yang
kasar, mencemooh menertawakan atau menghukum seseorang di depan siswa lain,
memaksa siswa untuk meminta maaf, memaksa dengan tuntutan tenentu, atau bahkan
dengan ancaman-ancaman. Pendekatan semacam ini termasuk penanganan yang kurang
tepat, karena bersifat otoriter kurang manusiawi.
Dijelaskan (dalam Rasdi Ekosiswoyo
dan Maman Rachman, 2000) terdapat lima strategi yang dapat diterapkan dalam
mangelola kelas, yaitu:
a.
Menetapkan dan menegakkan peraturan
Kegiatan yang dilakukan guru yaitu menggariskan
pembatasan-pembatasan dengan memberitahukan kepada siswa tentang apa yang
diharapkan dan mengapa hal tersebut diperlukan. Dengan demikian, maksud
peraturan ini adalah menuntun dan membatasi perilaku siswa.
b.
Memberi perintah, pengarahan, dan pesan
Strategi atau cara guru dalam
mengendalikan perilaku siswa agar dapat melakukan sesuai yang diinginkan guru.
c.
Menggunakan teguran ramah
Strategi yang digunakan yaitu dengan
cara menegur siswa yang berperilaku tidak sesuai dan yang melanggar peraturan
dengan cara lemah lembut. Teguran ini dapat dilakukan secara verbal maupun
nonverbal dengan maksud untuk memberitahukan bukan menuduh.
d. Menggunakan
pengendalian dengan gerak mendekati
Guru bergerak mendekati siswa yang
berperilaku menyimpang atau cenderung menyimpang. Tujuannya adalah untuk
mencegah berkembangnya situasi yang mengacaukan.
e.
Menggunakan pemisahan dan pengucilan
Strategi guru dalam merespon
terhadap perilaku menyimpang siswa yang tingkat penyimpangannya cukup berat.[3][3]
Kelebihan dari pendekatan ini adalah
terciptanya suatu disiplin tinggi dalam bentuk peraturan atau norma-norma yang
harus ditaati sehingga terciptanya suatu ketertiban di kelas. Kelemahannya adalah pendekatan ini
kurang efektif. guru yang menganut pendekatan ini umumnya menganggap apa yang
ia katakan adalah mutlak benar. Guru dianggap yang paling tahu. siswa kurang
diberi kesempatan untuk mengemukakan dan mengembangkan ide atau buah
pikirannya. Contohnya: Seorang
guru langsung mengusir anak didiknya yang berbicara di kelas tanpa
mempertimbangkan alasan yang diberikan
anak didiknya tersebut. Guru menganggap anak didiknya tersebut tidak disiplin.[4][4]
2.
Pendekatan Intimidasi atau Ancaman
Pendekatan intimidasi adalah
pendekatan yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku
peserta didik. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru
yang manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru yang
mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar,
ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, menyalahkan.
Peranan guru
adalah memaksa peserta didik berperilaku sesuai dengan perintah guru.
Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan menggunakan teguran
keras. Teguran keras adalah perintah verbal yang keras yang diberikan pada
situasi tertentu dengan maksud untuk segera menghentikan perilaku siswa yang
penyimpangannya berat. Misal, guru memergoki dua peserta didik
berkelahi.kemudian guru bertindak “berhenti” dengan harapan setelah mendengar
suara guru kedua peserta didik itu akan berhenti berkelahi. Kehadiran guru
membuat mereka takut, takut karena mereka membayangkan akan memperoleh hukuman
yang sangat berat. Dengan demikian, pendekatan intimidasi hanya baik untuk
menghentikan perbuatan yang salah berat dengan segera. Apabila perbuatan salah
itu selesai atau berhenti maka tindakan intimidasi tidak akan seproduktif
strategi lain.
Kendatipun pendekatan intimidasi telah
dipakai secara luas dan ada manfaatnya, terdapat kecaman terhadap pendekatan
ini. Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan masalah secara
sementara dan hanya menangani gejala-gejala masalahnya, bukan masalahnya itu
sendiri. Kelemahan lain yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah
tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan antara guru dan peserta
didik.[5][5]
3. Pendekatan Permisif atau
Kebebasan
Pengelolaan permisif di sini
diartikan sebagai suatu proses untuk membantu siswa agar merasa bebas untuk
mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah untuk
meningkatkan kebebasan siswa. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin
dan guru hendaknya juga berperan sebagai pendorong untuk mengembangkan potensi
siswa secara penuh. Pendekatan
permisif adalah pendekatan yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan
siswa. Tema sentral dari pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga
guru hendaknya membiarkan peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang
diinginkannya. Peranan guru adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab
dengan itu akan membantu pertumbuhannya secara wajar. Campur tangan guru
hendaknya seminimal mungkin, dan berperan sebagai pendorong mengembangkan
potensi peserta didik secara penuh..
Banyak pendapat
yang mengatakan bahwa pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni tidak
produktif diterapkan dalam situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Namun
disarankan agar guru memberikan kesempatan kepada para peserta didik melakukan
urusan sendiri apabila hal itu berguna. Urusan itu seperti para peserta didik
memperoleh kesempatan secara psikologis, memilkul risiko yang aman, mengatur
kegiatan sekolah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan memimpin diri
sendiri, disiplin sendiri, dan tanggung jawab sendiri. Dengan demikian, guru
harus dapat menemukan cara untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin kepada
peserta didik di satu sisi, di sisi lain tetap dapat mengendalikan kebebasan
itu dengan penuh tanggung jawab.[6][6]
Kelebihan Pendekatan ini cukup
efektif untuk dilaksanakan karena tingkah laku positif anak didik dapat
terkembangkan sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. Kelemahannya yaitu siswa menjadi
bergantung kepada guru dalam mengembangkan sikap baiknya. Siswa tersebut akan
teransang bertingkah baik bila ada sebuah pujian dari guru dan sebagainya. Contohnya:
Guru memberikan pujian dan hadiah kepada anak yang bertingkah laku baik dan
memberikan sanksi kepada anak yang bertingkah laku buruk dengan tujuan anak
tersebut tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.
4. Pendekatan
Kerja Kelompok
Dalam pendekatan ini, peran guru
adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan
proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok
menjadi kelompok yang produktif, selain itu guru juga harus dapat menjaga
kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus
dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi
masalah-masalah pengelolaan.
Menurut Schmuk (dalam Y. Padmono, 2011) untuk mengelola kelas diperlukan adanya:
a.
Pengharapan; jika siswa merasa guru mengharapkan mereka berkelakuan buruk,
sangat mungkin mereka akan berkelakuan buruk, sebaliknya jika siswa merasa guru
mengharapkan mereka berkelakuan baik, memungkinkan pula siswa akan berkelakuan
baik.
b. Kepemimpinan;
guru memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi pemimpin di kelas yang menjadi
tanggung jawabnya, akan tetapi kelas lebih efektif jika kepemimpinan dapat
dijalankan oleh guru dan siswa. Guru meningkatkan mutu interaksi dan
produktifitas kelompok dengan melatih siswa mengembangkan kemampuan
kepemimpinan.
c.
Daya tarik; mengacu pada persahabatan dalam kelompok kelas. Pengelolaan kelas
efektif adalah pengelolaan yang membantu mengembangkan hubungan baik antara
perorangan di antara anggota kelompok.
d. Norma-norma;
norma sangat memengaruhi perseorangan karena memberikan petunjuk yang membantu
anggota kelompok untuk memahami apa yang diharapkan orang lain. Guru hendaknya
tidak mendominasi pembentukan norma kelompok, sebab norma bentukan guru
cenderung memaksa siswa untuk menaatinya, sehingga ketaatan pada norma tersebut
hanya bersifat untuk memenuhi tuntutan pihak lain.
e.
Komunikasi; guru perlu mengembangkan kecakapan murid dalam berkomunikasi
tertentu, mengoreksi kata-kata, dan
memberi umpan balik.
f.
Kesatuan; kelompok kelas akan efektif jika sebagian besar anggotanya termasuk
guru sangat tertarik pada kelompok sebagai satu kesatuan. Guru dapat
menciptakan kelompok kelas yang bersatu dengan membuat diskusi tentang
penghargaan, dengan penyebaran kepemimpinan, mengembangkan persahabatan
kelompok, dan sering menggunakan arus komunikasi dua arah.[7][7]
5. Pendekatan
Sosio-Emosional
Pendekatan
iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan
klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan
antar pribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas
yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang
positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan
antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas
adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim
sosio-emosional yang positif pula. Glasser mengemukakan delapan langkah untuk
membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini:
a.
Secara pribadi melibatkan diri dengan
siswa; menerima siswa tetapi bukan kepada perilakunya yang menyimpang;
menunjukkan kesediaan membantu siswa memecahkan masalah.
b. Perilaku siswa; menangani masalah
tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa.
c.
Membantu siswa membuat penilaian atau
pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan perhatian
kepada apa yang dilakukan oleh siswa yang menimbulkan masalah dan yang
meyebabkan kegagalannya.
d. Membantu siswa merencanakan tindakan
yang lebih baik; jika perlu berikan alternatif-alternatif; bantulah siswa
membuat keputusan sendiri berdasarkan penilaiannya atas alternatif-alternatif
yang ada untuk mengembangkan perasaan tanggung jawab sendiri.
e.
Membimbing siswa mengikatkan diri
dengan rencana yang telah dibuatnya.
f.
Mendorong siswa sewaktu melaksanakan
rencananya dan memelihara keterikatannya dengan rencana tersebut; yakinkan
siswa bahwa guru mengetahui kemajuan-kemajuan yang dibuatnya.
g. Tidak menerima pernyataan maaf siswa
apabila siswa gagal meneruskan keterikatannya; bantulah ia memahami bahwa ia
sendirilah yang bertanggung jawab atas perilakunya; ingatkan siswa akan
perlunya rencana yang lebih baik; menerima pernyataan maaf berarti tidak
memusingkan masalah siswa.
h. Memberikan kesempatan kepada siswa
merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan
menghukumnya; bantulah siswa mencoba lagi menyusun rencana yang lebih baik dan
mengikatkan diri dengan rencana tersebut.
Sementara itu Dreikurs dalam kaitan
dengan pendekatan sosio-emosional mengemukakan gagasan-gagasan penting yang
mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif. Dua diantaranya ialah:
1) penekanan pada kelas yang demokratis dimana siswa dan guru berbagi tanggung
jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju, 2) pengakuan akan pengaruh
konsekuensi wajar dan logis atas perilaku siswa.[8][8]
6. Pendekatan
Intruksional
Manajemen kelas melalui pendekatan
ini mengacu pada tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Dengan demikian peranan
guru adalah merencanakan dengan teliti pelajaran yang baik, kegiatan belajar
yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa.
Pendekatan
instruksional dalam manajemen kelas memandang perilaku instruksional guru agar
mempunyai potensi untuk mencapai tujuan utama manajemen kelas, yaitu mencegah
timbulnya masalah manajerial dan memecahkan masalah manajerial kelas. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan strategi manajemen kelas dalam
pendekatan ini antara lain:
a.
Menyampaikan kurikulum dan pelajaran dengan cara yang menarik, relevan, dan
sesuai secara empiris dianggap sebagai
penangkal perilaku menyimpang siswa di dalam kelas
b. Menerapkan
kegiatan yang efektif adalah kemampuan guru mengatur arus dan tempo kegiatan
kelas oleh banyak orang sehingga mencegah siswa melalaikan tugasnya.
c.
Menyiapkan kegiatan rutin kelas adalah kegiatan sehari-hari yang perlu dipahami dan dilakukan siswa.
d. Memberikan
pengarahan yang jelas adalah kegiatan mengomunikasikan harapan-harapan yang diinginkan guru.
e.
Memberikan dorongan yang bermakna adalah suatu proses usaha guru dalam
menunjukkan minat yang sungguh-sungguh
terhadap perilaku siswa yang menunjukkan tanda-tanda kebosanan dan keresahan.
f.
Memberikan bantuan mengatasi rintangan adalah bentuk pertolongan yang diberikan
oleh guru untuk membantu siswa menghadapi persoalan yang mematahkan semangat,
pada saat mereka benar-benar
memerlukannya.
g. Merencanakan
perubahan lingkungan dalah proses mempersiapkan kelas atau lingkungan dalam
menghadapi perubahan-perubahan
situasi.[9][9]
7. Pendekatan
Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi
satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh
dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di
kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan
oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam
resep. Dalam pengelolaan, guru lebih banyak memberi anjuran, wejangan,
perintah, sehingga mengabaikan kebutuhan siswa. Di samping itu, guru menjadi
tidak kreatif karena terpaku pada penyelesaian materi.[10][10]
8. Pendekatan
Perubahan Tingkah Laku
Pendekatan pengubahan tingkah laku
didasarkan atas prinsip-prinsip psikologi behavioral. Prinsip pokoknya ialah
bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, baik tingkah laku yang disukai maupun
tidak disukai. Para penganut pendekatan ini percaya bahwa seorang siswa yang
bertingkah laku menyimpang melakukan perbuatannya itu karena satu atau dua
alasan:
a.
Siswa telah mempelajari tingkah laku yang menyimpang itu, atau
b.
Siswa itu belum mempelajari tingkah laku yang sebaiknya.
Pendekatan pengubahan tingkah laku
dibangun atas dua anggapan dasar:
a.
Ada empat proses yang perlu diperhitungkan dalam belajar bagi semua orang pada
segala tingkatan umur dan dalam segala keadaan.
b. Proses
belajar itu sebagian atau seluruhnya dipengaruhi (dikontrol) oleh
kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan. Dengan demikian, tugas pokok
guru adalah menguasai dan menerapkan keempat proses yang telah terbukti (bagi
kaum behavioris) merupakan pengontrol tingkah laku manusia, yaitu: penguatan
positif, penghukuman, penghilangan dan penguatan negatif.
Manajemen atau pengelolaan kelas
dilakukan sebagai upaya untuk mengubah tingkah laku siswa dalam kelas dari yang
kurang baik menjadi baik. Oleh sebab itu, kita harus mampu melakukan pendekatan
berdasarkan perubahan tingkah laku agar tujuan manajemen kelas dapat tercapai
dengan baik.
Agar pendekatan ini dapat berjalan
dengan efektif, sebaiknya kita perlu mencatat beberapa kegiatan yang dapat
mengakibatkan kacaunya suasana dalam kelas, sekaligus mencatat hal-hal yang
membuat siswa dapat menjaga suasana kelas tetap kondusif. Misalnya, selama ini
kita terbiasa memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab bersama sehingga
suasana menjadi gaduh. Jika kebiasaan tersebut dapat mengurangi kedisiplinan
siswa, maka kita sebaiknya perlu mengganti kebiasaan tersebut dengan hal lain
yang dapat mengembalikan kedisiplinan mereka.
Di samping itu, kita juga perlu
merangsang siswa agar dapat bertingkah laku positif di dalam kelas dengan cara
memberi pujian atau ucapan terima kasih selama mereka bisa menjaga sikap
disiplin dalam kelas. Kebiasaan ini tentu akan menimbulkan perasaan senang
dalam diri siswa, sehingga mereka akan terus terpacu untuk menjaga
sikap-sikapnya. [11][11]
9. Pendekatan
Pengajaran
Manajemen kelas dengan pendekatan
pengajaran, sesuai dengan sebutan dilakukan guru pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Peranan guru sangat dominan di sini sebagai aktor utama di dalam
kelas. Pendekatan memanajemen kelas dengan pendekatan pengajaran dimaksudkan
agar muncul peran guru secara efektif untuk melakukan pencegahan dan atau
penghentian perilaku siswa yang kurang menguntungkan atau bahkan mengganggu
proses pembelajaran di kelas. Pendekatan pengajaran mensyaratkan perencanaan
pengajaran yang baik oleh seorang guru. Selanjutnya, rencana pengajaran yang
telah dibuat itu diimplementasikan sebaik-baiknya di dalam kelas sehingga kelas
yang bersangkutan dapat terkelola dengan baik untuk sebesar-besar manfaat untuk
efektivitas pembelajaran siswa. Jadi, peranan guru dalam kaitannya dengan
pendekatan pengajaran adalah merencanakan dan mengimplementasikan pengajaran
yang baik.
10. Pendekatan
Elektis/Pluralistik
Pendekatan elektis adalah suatu
pendekatan pengelolaan atau manajemen kelas yang lebih menekankan pada
potensialitas, kreativitas, dabn inisiatif wali kelas atau guru kelas dalam
memilih berbagai pendekatan-pendekatan yang telah disebutkan sebelumnya
berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan-pendekatan di atas
itu dalam suatu situasi mungkin cukup dipergunakan salah satunya saja. Akan
tetapi pada Situasi yang lain mungkin harus dilakukan kombinasi dari dua atau
tiga pendekatan di atas tersebut sekaligus. Pendekatan elektis disebut juga
pendekatan pluralistic karena dalam pendekatan manajemen kelas ini guru
berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk
dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar
mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara
bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan
penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun)
kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi
kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.[12][12]
11. Pendekatan Teknologi
Informasi
Pembelajaran tidak hanya terpaku
pada kegiatan yang lebih dari hanya berbicara dan transfer pengetahuan. Seiring
dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi sekolah mencari bentuk baru dalam
proses pembelajaran anak. Pembelajaran yang dimaksud adalah perkembangan
teknologi dimasa kini dan mendatang, murid butuh untuk persiapan dirinya
terutama kaitanya dengan perkembangan proyek yang harus dikerjakan baik secara
individual maupun kelompok. Hal ini tentunya mendorong para guru untuk lebih
bertindak sebagai coaching dari pada upaya sekedar telling dan spending
ilmu pengetahuan.
Pemanfaatan teknologi informasi
adalah basis dalam pengembangan pembelajaran di dalam kelas, baik dalam
pengaturan kelas dengan alat teknologi tersebut (praktek), maupun kelas yang di
sett dengan alat tekologi yang memungkinkan anak dapat mempelajari apa
yang diinginkannya dengan bantuan alat teknologi tersebut. Teknologi memberikan
dan menuntut hal-hal berikut :
a.
Menuntut guru melakukan pekerjaan dan alat yang lebih rumit
b.
Mengarah kepada peran guru sebagai pelatih dari pada sebagai penyalur
pengetahuan
c.
Menyediakan kesempatan kepada guru untuk mempelajari isi pembelajaran kembali
dan menggunakan metode yang tepat
berdasarkan kurikulum yang ada
d. Dapat
memberikan dorongan kepada murid untuk bekerja lebih keras dan lebih
berhati-hati dalam belajar
e.
Membangun budaya nilai dan mutu pekerjaan dalam sekolah secara signifikan.[13][13]
DAFTAR
PUSTAKA
Nursalim A.R, 2011. Manajemen Kelas. Pekanbaru: Zanafa
Publishing.
Ekosiswoyo,
Rasdi, Maman Rachman.2002. Manajemen Kelas. CV. IKIP Semarang Press;Semarang Faizah.Nurul.2013.Pendekatan
pengelolaan Kelas.From:http://nurulfaizah13. blogspot.com/2013/04/pendekatan-pengelolaan-kelas-managerial.html.16
Maret 2014
Sangat bermanfaat artikelnya kak
BalasHapusPendekatan seperti apa yg dapat membuat siswa termotivasi?
BalasHapusMaterinya bagus, dan bermanfaat bagi pendidik.
BalasHapusArtikel nya bagus, bisa dijadikan referensi untuk pembaca.
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus