prinsip- prinsip manajemen kelas
TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG
Prinsip- prinsip manajemen kelas
DISUSUN OLEH:
ELVIRA DEVITA SRI
(1620180)
DOSEN
PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI MP.d
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP )
ADZKIA
2019
A.
Pengertian Prinsip Manajemen Kelas
Untuk
mengetahui makna dari prinsip manajemen kelas ini, ada baiknya terlebih dahulu
kita membahas sekilas tentang pengertian dari prinsip dan manajemen kelas.
Prinsip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah Asas, Dasar.[1][1]
Manajemen
kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari
bahasa Inggris yaitu “Management” yang
di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari Manajemen adalah pengelolaan,
penyelenggaraan, ketatalaksanaan
penggunaaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan.[2][2] Sedangkan untuk pengertian kelas,
penyusun mengambil pendapat dari Hadari Nawawi. Beliau menyatakan pengertian
kelas dalam arti sempit dan luas. Berikut pendapatnya:
1.
Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat
sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti Proses Belajar Mengajar. Kelas dalam
pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk
pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan
pada batas umur kronologis masing-masing.
2.
Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari
masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja
yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif
untuk mencapai suatu tujuan.[3][3]
Jadi
dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud kelas adalah ruangan belajar yang
digunakan untuk belajar oleh sekelompok orang dalam waktu sama, tingkatan sama,
pelajaran yang sama dan dari guru yang sama.
Dari
pengertian manajemen dan kelas diatas, beberapa para ahli berpendapat tentang
pengertian manajemen kelas yaitu:
1.
Menurut DR. Hadari Nawawi
Manajemen
Kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan
potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap
personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga
waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan
dengan kurikulum dan perkembangan murid.
2.
Drs. Syaiful Bahri Djamarah
Manajemen Kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan
potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi
edukatif mencapai tujuan pembelajaran.”
Jadi
dapat disimpulkan pengertian manajemen kelas adalah program yang dibuat oleh
guru untuk mendayagunakan secara
maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yaitu: guru, murid dan proses.
Sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan efesien serta
mengantisipasi masalah-masalah yang kemungkinan terjadi.
Setelah
mengetahui pengertian prinsip dan manajemen kelas, maka dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan prinsip manajemen
kelas adalah acuan yang memiliki pokok dasar berfikir atau bertindak bagi
seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses
pembelajaran.
Prinsip-Prinsip
Manajemen Kelas
“Secara
umum faktor yang mempengaruhi manajemen kelas dibagi menjadi dua golongan
yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.” (Djamarah 2006:184). Faktor
intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian
siswa denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari
siswa lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dilihat dari
segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor
ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan
siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa
di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas,
misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik.
Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi
konflik.
Djamarah
(2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam
pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang
dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut.
1.
Hangat dan Antusias
Hangat
dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan
akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada
aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2.
Tantangan
kata-kata, tindakan, cara kerja, atau
bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar
sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
Beberapa contohnya: pemberian tugas, baik individu maupun kelompok, tanya jawab
dalam menerangkan.
3.
Bervariasi
Penggunaan
alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik
akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian
ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan
menghindari kejenuhan.
4.
Keluwesan
Selama
proses belajar mengajar, tentu terdapat kemungkinan munculnya ganggua-gangguan
dari siswa. Untuk itu diperlukan keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah
strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta
menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat
mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak
mengerjakan tugas dan sebagainya.
5.
Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada
dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang
positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative.
Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru
terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang
negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang
positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu
jalannya proses belajar mengajar.
6. Penanaman Disiplin
Diri
Tujuan
akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin
diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan
pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila
ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.
B. PERMASALAHAN DALAM PRINSIP
MANAJEMEN KELAS
Dalam
menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan
kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga,
yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang menyangkut pengelolaan kelas.
Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya
secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yangbersifat
pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya,
seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang
sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu,
padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak
diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat.
“Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan
“diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan.
Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran
dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat
pengelolaan.
·
Untuk dapat menangani masalah-masalah
pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu Mengenali secara tepat
berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun
kelompok;
·
Memahami pendekatan mana yang cocok dan
tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
·
Memilih dan menetapkan pendekatan yang
paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Dalam
salah satu tulisannya Raka Joni mengupas tentang pengelolaan kelas. Menurutnya
pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai
guru. Pengelolaan kelas berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan
pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi
dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih
berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan
perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik
secara tepat waktupenetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup
pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Ada
dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau
individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau
individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan
yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah
itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani
permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah
pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1.
Masalah Individual :
Penggolongan
masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia
itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan
dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu
gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan
bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu
tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut balas
dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin
lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang
lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
- Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang
siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana
hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif)
bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari
perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer,
melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus
bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian
yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus
meminta bantuan orang lain.
- Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah
laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih
mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan
adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain
dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif
tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak
melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan
secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
- Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa
yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari
bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain.
Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap
sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering
dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau
dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam
pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka
bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif
sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
- Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa
yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu
berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang
bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini
menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.
Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan
tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan
ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat
masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau
perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi
juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk
mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri
para siswa.
a. Jika
guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu
merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari
perhatian.
b. Jika
guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa
siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika
guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d. Jika
guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru
hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah
laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke
mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan
ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2.
Masalah Kelompok :
Dikenal
adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
- Kurangnya kekompakan
Kurangnya
kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara
para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis
kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini.
Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak
sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa
di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
- Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika
suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas
yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan
mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini ialah berisik;
bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang;
berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa
diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau
menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
- Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi
negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar
yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok
itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota
kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap
“menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan
kelompok.
- Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan
kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu
mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku
menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah
perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar
yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan
masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih
perlu mendapat perhatian.
- Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah
kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran
kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap
hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil
untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering terjadi
ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak
adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan
kekhawatiran.
- Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah
kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan
tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun
terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas,
kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di
rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan
lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada umumnya
protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan
penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
- Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan
menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi
secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian
keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok,
perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu
terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu
ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah
tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal
biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
C.
KEBIJAKAN TENTANG PRINSIP MANAJEMEN KELAS
UU
No .14 tahun .2005 pasal 6 guru menjalin hubungan dengan peserta didik di
landasi rasa kasih saying dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik
yang di luar batas kaidah pendidikan .
DAFTAR
PUSTAKA
Rachman, Maman. 1998. Manajemen
Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi.
Hadari Nawawi. 1989. Organisasi Sekolah Dan Pengelolaan Kelas.
Jakarta: CV. Haji Masagung.
Hadari Nawawi, 1982. Organisasi
Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta : Gunung
Agung.
Pius A.Partanto,
M.Dahlan al-Barry. 1994. Kamus Ilmiah
Populer. Surabaya: Arkola.
Syaiful Bahri Djamarah.
2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi
Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Sangat bermanfaat
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus